Dojo-dojo yang termasuk dalam lingkungan dan binaan Kei Shin Kan Karate-Do Cabang Kota BAndung :

1. Dojo Univeritas Langlangbuana (UNLA)

(Jl. Karapitan N0.116 Bandung)

2. Dojo Universitas Pasundan (UNPAS)

(Jl. Taman Sari N0. 6-8 Bandung)

3. Dojo STT Telkom

(Telekomunikasi N0.1, Terusan Buah Batu Bandung)

4. Dojo SMAN 2 Bandung

(Jl. Cihampelas N0.173 Bandung)

5. Dojo SDN Lengkong

(Jl. Lengkong Besar N0. 105 Bandung)

6. Dojo SD Margahayu

(Jl. Margahayu Raya N0.  Bandung)

7. Dojo SD Babakan Periangan

(Jl. )

Berdasarkan program kerja PB Forki dan kerjasama FORKI dengan Departemen Pendidikan Nasional dalam kegiatan Karate masuk sekolah. Forki kembali melaksanakan Sertifikasi Pelatih Tingkat Pratama/Muda tahap II pada tanggal 24 – 27 Juli 2008, di dua wilayah (zona) Barat, dan Timur

Pesertanya diutamakan dari utusan Cabang Forki Kabupaten/Kota yang belum mengikuti sertifikasi pelatih tingkat pratama tahap I, yang dilaksanakan oleh PB FORKI.
Adapun pembagian dua wilayah/zona:

·          Zona I pelaksanaannya di Asrama Haji Medan, Sumatera Utara. (Kontak person: Sdr. Salim HP.08163120340)

·          Zona II pelaksanaannya di Balai Diklat Pertanian Kalasey Manado, Sulawesi Utara. (Kontak person: Sdr. Rio Mangowal HP.081356024567).

Sementara itu Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi (Binpres) PB FORKI Madju Dharyanto mengatakan, Sertifikasi Pelatih Pratama ini menggunakan metode MTT (Mobile Trainning Team) ini bertujuan untuk menyeragamkan kemampuan pelatih di seluruh Indonesia.
“Dari PON XVII/2008 – Kaltim lalu, kita melihat daerah memiliki potensi besar. Karena itu, kita akan kembangkan potensi tersebut,” ujar Madju. Peserta Sertifikasi Pelatih Tingkat Pratama/Muda, dari perguruan karate dari tingkat Ranting/Cabang FORKI di Kabupaten/Kota seluruh Indonesia.
Selanjutnya, para pelatih itu akan ditugaskan untuk melatih karateka junior di masing-masing daerah. Hasil didik mereka nanti akan mengikuti kejuaraan Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) pada 14-17 Agustus mendatang di Jakarta. “Juara dari O2SN ini akan mendapat beasiswa dari Mendiknas,” tandas Madju.

Kanku dapat diterjemahkan sebagai melihat langit, atau menatap langit. Nama kata ini diambil dari gerakan pembukanya yang mengarahkan kedua tangan ke langit. Saat ini Kanku Dai sebagai salah satu kata wajib (shittei kata) Shotokan sesudah Jion.

Kanku adalah kata yang sangat tua sekaligus kata dengan banyak versi. Kata ini juga mempunyai sejarah yang unik. Menurut legenda, nama Kanku diambil dari nama atase militer Cina bernama Kung Shiang Chung (dalam lafal Okinawa disebut dengan Ku Shan Ku) yang datang ke Okinawa.

Ketika Funakoshi datang ke Jepang dia menghilangkan tiga huruf kanji Kung Shiang Chung tetapi mengucapkannya dalam lafal Jepang ko Sho Kun untuk menghilangkan kesan budaya Okinawa dan selanjutnya dapat diterima dalam budaya Jepang.

Ku Shan Ku yang selanjutnya dalam Shotokan disebut Kanku Dai. Kata dengan gerakan yang panjang ini adalah kata favorit dari Gichin Funakoshi. Dipilihnya Kanku Dai untuk demonstrasi bagi orang-orang Jepang di Butokukai tahun 1922. Sebagai hasilnya Makoto Gima pendiri Judo sangat tertarik dengan demonstrasi itu dan selanjutnya meminta Funakoshi menetap di Jepang dan mengajarinya teknik-teknik dasar.

Tahukah Anda ternyata untuk belajar Kanku Dai ada beberapa kata wajib yang harus Anda pelajari dulu ? Untuk belajar kata ini seorang karateka setidaknya sudah menguasai seluruh kata Heian (Heian 1 – 5), Tekki Shodan dan Bassai Dai. Dalam Kanku Dai ada begitu banyak variasi teknik mulai dari gerakan peregangan, mengerut, cepat, lambat dan bahkan gerakan merunduk. Kanku Dai dikerjakan seolah-olah menghadapi lawan dalam jumlah yang banyak.

Selain Shotokan, aliran-aliran karate di Jepang juga memasukkan kata yang populer ini dalam kurikulum mereka. Namun dengan nama dan variasi gerakan yang sedikit berbeda pula. Shito Ryu menyebut kata ini dengan Ko Sho kun, Goju Ryu dan Wado Ryu menyebut dengan Ku Shan Ku, sementara Kyokushinkai menyebut dengan Kanku. Barangkali yang membedakan antara versi Shotokan dengan yang lain adalah adanya teknik lompatan sebelum akhir kata ini.

Sebagai pasangan dari Kanku Dai dalam versi Shotokan ada pula Kanku Sho. Kata ini termasuk jenis kata pilihan.

Kata yang berarti bentuk resmi atau kembangan juga memiliki arti sebagai filsafat. Kata memainkan peranan yang penting dalam latihan karate. Setiap kata memiliki embusen (pola dan arah) dan bunkai (praktik) yang berbeda-beda tergantung dari kata yang sedang dikerjakan. Kata dalam karate memiliki makna dan arti yang berbeda, bahkan kata juga menggambarkan sesuatu, Inilah kata sebagai filsafat. Karena itulah kata memiliki peranan yang penting sejak jaman dulu dan menjadi latihan inti dalam karate. Gichin Funakoshi mengambil kata dari perguruan Shorei dan Shorin.

Shotokan memiliki 26 kata yang terus dilatih hingga kini. Ada yang populer ada pula yang tidak. Masing-masing mempunyai tingkat kesulitan sendiri-sendiri. Karena itu wajib bagi tiap karateka untuk mengulang berkali-kali bahkan ratusan kali.

Kata

Arti

Nama Asli

Takeoku Shodan

Pembuka jalan (1)

-

Takeoku Nidan

Pembuka jalan (2)

-

Takeoku Sandan

Pembuka jalan (3)

-

Heian Shodan

Pikiran yang damai (1)

Pinan Nidan

Heian Nidan

Pikiran yang damai (2)

Pinan Shodan

Heian Sandan

Pikiran yang damai (3)

Pinan Sandan

Heian Yondan

Pikiran yang damai (4)

Pinan Yondan

Heian Godan

Pikiran yang damai (5)

Pinan Godan

Tekki Shodan

Satria yang kuat (1)

Naihanchi

Tekki Nidan

Satria yang kuat (2)

 -

Tekki Sandan

Satria yang kuat (3)

 -

Bassai Dai

Menembus benteng (besar)

Passai

Kanku Dai

Menatap langit (besar)

Kushanku

Enpi

Burung layang-layang terbang

Wanshu

Hangetsu

Bulan separuh

Seishan

Jion

Nama biksu Budha, pengampunan

Jion

Nijushiho

24 langkah

Niseishi

Sochin

Memberi kedamaian bagi orang banyak

Sochin

Bassai Sho

Menembus benteng (kecil)

 -

Kanku Sho

Menatap langit (kecil)

 -

Jitte

Bertarung seolah-olah dengan kekuatan 10 orang

Jitte

Chinte

Tangan yang luar biasa

Chinte

Meikyo

Cermin jiwa

Rohai

Gankaku

Bangau diatas batu

Chinto

Wankan

Mahkota raja

Wankan

Gojushiho Sho

54 langkah (kecil)

 -

Gojushiho Dai

54 langkah (besar)

Useishi

Unsu

Tangan seperti awan

Hakko

Kiai, yang berarti teriakan semangat merupakan salah satu komponen penting dalam berlatih karate. Bukan sekedar mengeluarkan udara dan suara sekeras-kerasnya, namun lebih dari itu. Kiai yang salah hanya akan membahayakan karateka itu sendiri, karena dalam kondisi itu akan mudah diserang. Bahkan dalam serangan yang lemah sekalipun. Hal ini sering terjadi dalam turnamen. Mungkin karena terlambat kiai akhirnya serangan lawan masuk.

Dan bisa ditebak, sakitnya jangan ditanya lagi. Belajar dari pengalaman, ternyata kiai ketika kita dipukul lebih sakit daripada kita dalam latihan biasa (yang tidak ada lawannya tentu saja !). Secara teori sebenarnya ada tiga manfaat poin penting dalam kiai.

Pertama tentu saja menunjukkan semangat bertarung alias fighting spirit. Jelas kita tidak mungkin bertanding tanpa mengeluarkan suara. Dalam sesi latihan biasanya kiai pada gerakan kelima atau kesepuluh, jika berlatih dasar (kihon). Atau pada teknik yang terakhir. Umumnya senior/pelatih akan memberikan aba-aba untuk berteriak. Jangan dikira kiai adalah pekerjaan mudah. Umumnya sering saya melihat yunior-yunior sangat sulit kalau disuruh kiai setiap akhir suatu teknik. Kalau murid pemula seharusnya tidak masalah, tapi kalau murid tingkat lanjut ? Tentu ini jadi masalah kalau harus turun dalam turnamen resmi. Karena fungsi kiai disini juga untuk mengantisipasi cedera dalam kumite.

Kedua, mempengaruhi lawan. Bagaimana bisa dengan hanya berteriak lawan akan terpengaruh bahkan sampai ketakutan. Ada istilah kiai jutsu dalam dunia bela diri, dimana dengan hanya berteriak maka lawan akan mengurungkan serangan. Rahasianya ternyata cukup simpel, dimana saat kita berteriak harus dilandasi dengan semangat berperang yang sungguh-sungguh tanpa keraguan dan ketakutan. Yang pasti saya tidak mengatakan ini mudah, karena saat kita maju menghadapi lawan ketakutan pasti ada. Dan rasanya itu hal yang manusiawi.

Sedangkan yang terakhir, kiai bisa juga berfungsi sebagai elemen yang meningkatkan tenaga dengan memberi penekanan pada otot. Dalam suatu acara demonstrasi, umumnya acara puncaknya adalah tamesware (pemecahan). Kalau Anda perhatikan, si peraga tentu kiai saat memecahkan batu, kayu, es atau apapun yang menjadi bahan tameswarenya. Tidak masalah dengan menggunakan bagian tubuhnya yang mana untuk memecahkan. Tentu saja dengan memecahkan harus didukung dengan pernapasan dan kime (fokus/konsentrasi) yang benar.

Selain itu, Kiai juga bisa membuat kita lebih rileks dan segar alias fresh. Dan memang dari sudut psikologi berteriak adalah salah satu cara menghilangkan ketegangan fisik dan pikiran.

Peringkat

Usia minimal peringkat ini

Lama berlatih minimal

Gelar

Syarat untuk gelar

Shodan (Dan I)

Tidak ada batasan minimal sampai rokudan

3 th

Sinpay

-

Nidan (Dan II)

-

1 th setelah Shodan

Sensei

-

Sandan (Dan III)

-

2 th setelah Nidan

Sensei

-

Yondan (Dan IV)

-

3 th setelah Sandan

Sensei

-

Godan (Dan V)

-

3 th setelah Yondan

Renshi

Minimal 2 th setelah Godan, Usia minimal 35 th.

Rokudan (Dan VI)

35 th

5 th setelah Godan

(Renshi)

Sama dengan diatas

Shicidan (Dan VII)

42 th

7 th setelah Rokudan

Kyoshi

Minimal 10 th setelah Renshi

Hachidan (Dan VIII)

50 th

8 th setelah Shicidan

(Kyoshi)

Sama dengan diatas

Kudan (Dan IX)

60 th

10 th setelah Hachidan

Hanshi

Minimal 15 th setelah Kyoshi

Judan (Dan X)

70 th

10 th setelah Kudan

(Hanshi)

Sama dengan diatas

 

 

Karate sebagai seni tradisional sangat kental dengan budaya Jepang. Karena wajib bagi seorang karate untuk memahami etika (tingkah laku) yang dilakukan di dojo.

Umumnya latihan bela diri dilakukan tanpa alas kaki, begitu juga dengan karate. Murid wajib menanggalkan alas kaki diluar dojo. Latihan dengan menggunakan alas kaki adalah dilarang, karena berlatih dengan kaki juga merupakan komponen penting.

Seragam latihan dijaga kebersihannya. Seragam yang selalu kotor menunjukkan pribadi individu. Lebih bijaksana jika seragam selalu diseterika sebelum latihan.

Sebelum masuk dojo tidak masalah apakah yunior atau senior wajib membungkuk memberi hormat pada dojo. Hal ini menunjukkan penghargaan tidak hanya terhadap dojo, namun juga apapun yang kita pelajari selama latihan.

Sebagaimana yang dinasihatkan oleh Gichin Funakoshi :

“Tanpa sopan santun kau tidak akan bisa berlatih karate-do. Hal ini tidak hanya berlaku selama latihan saja namun juga dalam hidupmu sehari-hari. Kata “dojo” sesungguhnya terdiri dari dua kata. “Do” yang bermakna jalan atau cara, dan “Jo” yang berarti tempat. Ketika dua kata ini digabung akan bermakna tempat dimana suatu jalan atau cara dipelajari. Dojo adalah suatu tempat dimana kita belajar untuk hidup bersama-sama sebagai anggota masyarakat. Ini adalah hal yang serius, karena itulah kita harus mengikuti etika dojo. Ini adalah langkah awal berlatih karate-do.”

Segala asesoris dan perhiasan wajib ditanggalkan. Murid yang memakai alat bantu seperti lensa kontak atau kacamata (yang tidak mungkin dilepas) wajib berhati-hati. Dan tentu saja sadar akan resikonya. Senior wajib untuk mengingatkan terutama untuk latihan yang berbahaya seperti dalam kumite. Kuku tangan dan kaki tidak boleh panjang.

Adalah budaya di Jepang ketika seorang yunior melihat seniornya wajib baginya berdiri dan membungkuk memberi hormat. Hal yang sama berlaku pula dalam karate, dimana bertemu dengan senior/pelatih maka wajib memberi hormat. Selain itu sesudah meditasi sebelum latihan, juga bila seorang murid akan meninggalkan dojo wajib pula memberi hormat.

Para murid berdiri sesuai dengan peringkat sabuk (kyu atau dan) menghadap pada senior. Mereka yang sabuk lebih tua berdiri paling depan diikuti dengan yang lebih yunior. Ini menunjukkan budaya Jepang yang menghargai senioritas.

Selama sesi latihan jika murid yang lain berlatih sementara sebagian yang lain tidak, maka mereka yang tidak berlatih duduk ditepi dojo dan memperhatikan. Hal ini juga berlaku dalam ujian atau turnamen. Jika harus meninggalkan dojo lebih dulu wajib ijin pada senior.

Termasuk dalam sesi latihan dilarang saling berbicara dengan murid yang lain. Hal lain adalah dilarang bertanya kepada senior/pelatih kecuali memang diberikan kesempatan. Menguap dan sesekali melihat jam selama latihan adalah hal yang tidak sopan dan dianggap tidak disiplin, maka hal ini harus dihindari.

Jika datang terlambat, segeralah duduk dalam posisi duduk meditasi (seiza) diluar dojo. Lakukan pemanasan sendiri (untuk menghindari cedera) jika latihan sudah dimulai. Barulah kemudian berikan hormat pada senior dan selanjutnya bergabunglah dengan yang lain setelah diberikan ijin oleh senior.

Jika latihan sudah selesai, lakukan upacara seperti sebelum latihan dimulai.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.